SPECS OVERDRIVE ASH GREY DAK GRANIT


Specs di industri sepatu olahraga tidak berlangsung dalam waktu singkat. Sejarah keberadaan Specs dimulai pada 1968 oleh pasangan Lucas dan Linda Sasmita melalui PT Panarub. Awalnya, pasangan ini hanya memproduksi sandal dengan merk Lily hasil kerjasama dengan prinsipal asal Jepang.

Hingga akhirnya, rekanan kerja keluarga Sasmita mengalami kebangkrutan. Saat itu pula, mereka berinisiatif membeli mesin-mesin dan perangkat produksi untuk diboyong ke Indonesia, sehingga sandal Lily bisa langsung diproduksi di tanah air. Sandal ini pun mulai dikenal luas pada 1970an dan menjadi titik awal munculnya brand Specs.

Specs pun mulai muncul di permukaan pada 1979 dengan target pasar di dalam negeri. Awal keberadaannya pun tidak sesukses seperti sekarang. Sampai pada akhirnya, Lucas dan Linda menyerahkan urusan perusahaan ke anak semata wayangnya, Hendrik Sasmito.

Pria kelahiran 10 November 1962 terus mendalami bisnis keluarganya. Namun Hendrik tak butuh waktu lama memahami seluk beluk Panarub. Apalagi, dia sudah makan asam garam di perusahaan keluarganya itu. Mulai dari Manajer Manufacturing pada 1988, hingga menempati posisi General Manager Panarub pada 1990.

Melebarkan Sayap
Mengutip laman SWA, Hendrik mulai mengembangkan Specs dengan memperkenalkan sistem cold cenent shoes (sistem tempel dingin) yang menjadi keunggulan produknya. Sebelumnya, Specs masih menggunakan sistem vulkanisir seperti yang digunakan produk Bata.

Langkah itu pun langsung menuai banyak pujian. Ditangan Hendrik, perusahaan keluarga menjelma jadi perusahaan besar yang menjamah pasar-pasar luar negeri. Nama Hendrik pun juga mulai dikenal perusahaan sepatu raksasa seperti Adidas. Bahkan, Adidas mempercayakan produksi beberapa produknya dibawah kendali Hendrik pada 1988.

Posisi ini dimanfaatkan Hendrik untuk melebarkan sayap pemasaran dengan menggandeng pemain-pemain sepak bola nasional seperti Rocky Putiray. Sang legenda sepak bola Indonesia yang sudah malang melintang di sepak bola internasional merupakan atlet pertama yang menjadi brand ambassador Specs. Selanjutnya, Specs mendapatkan sertifikat ISO serta memanenkan tekhnologi-tekhnologi pada sepatu olahraganya.

Pada tahun 2004, Specs memberanikan diri untuk dapat mensponsori tim professional Persikota Tangerang. Pada tahun yang sama pula, Specs membuka toko pertamanya di Pasar Raya Grande dan flagship shop di Blok M Mall.

Tidak butuh waktu lama Specs menjadi buah bibir perbincangan anak muda yang menggemari olahraga paling menyita perhatian ini. Dengan sokongan prestasi Persipura Jayapura yang pada tahun 2005 menjuari piala liga Indonesia. Specs yang menjadi sponsor resmi jersey apparel tim asal Indonesia Timur itu pun ikut kecipratan naik daun.

Semakin dikenal dan juga semakin disayang karena produk dalam negeri, membuat nama Specs seperti tidak ada rintangan dalam hal distribusi ke seluruh penjuru Indonesia. Cristian Gonzales menyusul seniornya Rocky P untuk mejeng pada iklan-iklan Specs pada 2006 hingga kini.

Di dunia olahraga futsal, Specs mulai merambah masuk ke dunia olahrga futsal ketika mereka mensponsori tim Electrik PLN pada tahun 2007, yang menjuarai Liga Futsal Indonesia. Di sisi lain, Specs juga melebarkan sayap distribusinya ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura pada tahun yang sama. Dan hingga kini, sudah belasan atlet nasional dari cabang sepak bola dan futsal terpampang sebagai brand ambassador.

Belasan tekhnologi sepatu olahraga sudah diciptakan, berbagai macam model sepatu futsal, sepak bola, running, bulutangkis dan appareltersedia bagi pecinta dunia olahraga. Di dunia futsal, nama-nama yang sudah tidak asing seperti Socrates M, Yos Adi W, Caisar Silitonga, Randy ‘Akank’ Satria, Bambang Bayu Saptaji, dan Tely Sarendra yang terpampang di kanal situs resmi Specs-sports.com.

Comments